JAUHILAH DOSA DOSA BESAR, SELAMATKAN DIRI DARI SIKSA NERAKA “

by January 27, 2024

Foto Doc.

Reportactual.com – Allâh Azza wa Jalla memberitakan bahwa menjauhi dosa-dosa besar akan menyebabkan ampunan Allâh dan masuk surga-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

تَجۡتَنِبُوا۟ كَبَاۤىِٕرَ مَا تُنۡهَوۡنَ عَنۡهُ نُكَفِّرۡ عَنكُمۡ سَیِّـَٔاتِكُمۡ وَنُدۡخِلۡكُم مُّدۡخَلا كَرِیما

Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar yang dilarang kepada kalian, niscaya Kami akan menghapuskan dari kalian dosa-dosa kalian dan Kami akan memasukkan kalian ke dalam tempat yang mulia.” (QS. An-Nisa’: 31)

Adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Dengan dalil yang tegas ini, Allah menjamin bagi orang yang menjauhi dosa-dosa besar bahwa Allah pasti akan memasukkan mereka ke dalam surga.”

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,

الصَّلَوَاتُ الخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إلى الجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إلى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ ما بيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الكَبَائِرَ

Salat lima waktu, salat jumat menuju salat jumat berikutnya, puasa ramadan menuju puasa ramadan sesudahnya, merupakan penghapus dosa-dosa yang terjadi di antaranya selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim)

 Jumlah dosa besar

Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah dosa besar. Ada di antara mereka yang mengatakan bahwa dosa besar itu ada tujuh. Mereka berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ المُوبِقاتِ

Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan.”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan,

الشِّرْكُ باللَّهِ، والسِّحْرُ، وقَتْلُ النَّفْسِ الَّتي حَرَّمَ اللَّهُ إلَّا بالحَقِّ، وأَكْلُ الرِّبا، وأَكْلُ مالِ اليَتِيمِ، والتَّوَلِّي يَومَ الزَّحْفِ، وقَذْفُ المُحْصَناتِ المُؤْمِناتِ الغافِلاتِ.

[1] Syirik kepada Allah, [2] sihir, [3] membunuh jiwa yang haram dibunuh, kecuali apabila ada alasan yang membenarkannya, [4] memakan harta anak yatim, [5] memakan harta riba, [6] melarikan diri dari pertempuran saat dua pasukan bertemu, [7] menuduh berzina terhadap perempuan yang baik-baik dan tidak bersalah.” (Muttafaq ‘alaih)

Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma mengatakan bahwa dosa besar itu jumlahnya lebih tepat dikatakan mendekati tujuh puluh dan bukan hanya tujuh. Adz-Dzahabi rahimahullah mengatakan bahwa hadis di atas sama sekali tidak menunjukkan pembatasan jumlah dosa besar.

 Pengertian dosa besar

Adz-Dzahabi rahimahullah menjelaskan bahwa pengertian dosa besar yang tepat adalah segala bentuk perbuatan yang memiliki dampak hukuman khusus (had) di dunia semacam membunuh, berzina, atau mencuri. Atau perbuatan yang disebutkan di dalam dalil dengan peringatan keras berupa hukuman di akhirat berupa siksaan, kemurkaan, tantangan, atau perbuatan yang pelakunya dilaknat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

 Dosa besar yang paling besar

Adz-Dzahabi rahimahullah mengatakan bahwa dosa besar yang paling besar adalah kesyirikan kepada Allah Ta’ala dan hal itu meliputi dua macam: syirik besar dan syirik kecil. Dosa syirik besar itu berupa menjadikan selain Allah sebagai sesembahan tandingan, entah itu pohon, matahari, bulan, nabi, syekh, bintang, malaikat, dan lain sebagainya. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ لَا یَغۡفِرُ أَن یُشۡرَكَ بِهِۦ وَیَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَ ٰ⁠لِكَ لِمَن یَشَاۤءُۚ

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Dia akan mengampuni dosa lain yang berada di bawah tingkatan dosa syirik itu bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’: 48)

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّهُۥ مَن یُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَیۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ

Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka Allah mengharamkan surga baginya dan tempat kembalinya adalah neraka.” (QS. Al-Ma’idah: 72)

Adz-Dzahabi rahimahullah menyatakan bahwa barangsiapa yang berbuat syirik kepada Allah, kemudian meninggal dunia dalam keadaan berbuat syirik, maka dia pasti termasuk penghuni neraka. Sebagaimana halnya barangsiapa yang beriman kepada Allah kemudian meninggal dalam keadaan beriman, maka dia termasuk penghuni surga meskipun dia harus disiksa terlebih dulu di dalam neraka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أنَّ اللهَ تعالى قال إني أغنى الشركاءِ عن الشركِ فمن عمل عملًا أشرك فيه غيري فأنا منه بريءٌ وهو للذي عمِلَه

Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Aku tidak butuh sekutu-sekutu dari perbuatan syirik. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal dengan mempersekutukan Aku di dalamnya, maka Aku berlepas diri darinya dan dia akan diserahkan kepada sosok yang dijadikannya sebagai sekutu.‘” (HR. Ath-Thabari dalam Tahdzibul Atsar)

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَدِمۡنَاۤ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنۡ عَمَلࣲ فَجَعَلۡنَـٰهُ هَبَاۤءࣰ مَّنثُورًا

Dan Kami hadapi segala amal yang dahulu mereka lakukan di dunia kemudian Kami jadikan amal-amal itu (seperti) debu yang berterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)

Sebagian orang yang bijak mengatakan, “Orang yang ikhlas adalah yang berusaha menyembunyikan kebaikan-kebaikannya sebagaimana dia berusaha untuk menyembunyikan kejelekan-kejelekannya.”

PENGERTIAN DOSA BESAR

Ayat di atas memberitakan kabar gembira bagi orang mukmin yang menjauhi dosa-dosa besar, maka dosa-dosa kecilnya akan diampuni oleh Allâh Azza wa Jalla . Demikian juga hadits di atas mensyaratkan terhapusnya dosa-dosa dengan berbagai amalan shalih adalah dengan menjauhi dosa-dosa besar. Dari sini maka sangat penting bagi kita mengetahui pengertian dosa besar untuk dijauhi.

Dosa besar bahasa Arabnya adalah kabîrah, dan jama’nya kabâ-ir. Ulama berbeda pendapat tentang dosa-dosa besar ini. Ada yang mengatakan jumlahnya tujuh, sebagian mengatakan jumlahnya tujuh puluh, yang lain mengatakan semua maksiat merupakan dosa besar.

Semua pendapat di atas tidak benar. Dosa besar tidak diketahui dengan batasan jumlah karena tidak ada nash padanya. Dan tidaklah semua maksiat itu dosa besar, karena Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya membedakan maksiat, ada yang merupakan dosa besar dan ada yang bukan.

Ada dua definisi terbaik yang disebutkan ulama tentang dosa besar.

Pertama. Dosa besar adalah dosa yang padanya terdapat had (hukuman syari’at) di dunia, atau ancaman neraka atau kemurkaan Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Ini pendapat yang terkenal dari Imam Ahmad rahimahullah dan Ulama lainnya. Syaikhul- Islam rahimahullah menambahkan bahwa termasuk dosa besar adalah dosa yang keimanan ditiadakan darinya, atau terdapat perkataan “bukan dari kami”.

Kedua. Dosa besar adalah kemaksiatan yang merusak (melanggar) salah satu dari lima tujuan syari’at yang agung. Ini adalah pendapat al-‘Izz bin Abdis-Salam rahimahulla dan Ulama lainnya. Lima tujuan syari’at yang agung yaitu: menjaga agama Islam, menjaga nyawa, menjaga akal, menjaga nasab, dan menjaga harta.

Kedua pendapat ini berdekatan maknanya. Karena dosa yang merusak salah satu dari lima tujuan syari’at, maka ada had (hukuman syara’) padanya.[3]

Syaikh Abdurrahmân bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Definisi dosa besar yang terbaik adalah : dosa yang ada had (hukuman tertentu dari agama) di dunia, atau ancaman di akhirat, atau peniadaan iman, atau mendapatkan laknat atau kemurkaan (Allâh) padanya”.[4]

Dosa yang ada had (hukuman syari’at) di dunia adalah seperti syirik, sihir, mencuri, zina, minum khamr, dan lainnya. Adapun dosa yang ada ancaman neraka adalah seperti membunuh, berkhianat, memakan harta manusia dengan batil, dan memakan harta anak yatim dengan batil.

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا

Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zhalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). [an-Nisâ`/4:10].

Dosa yang keimanan ditiadakan darinya adalah seperti sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ قِيلَ وَمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَايِقَهُ

“Demi Allâh, dia tidak beriman; demi Allâh, dia tidak beriman; demi Allâh, dia tidak beriman!” Beliau ditanya, “Siapa dia, wahai Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?” Beliau menjawab, “Orang yang tetangganya tidak merasa aman terhadap keburukan-keburukannya”. [HR Bukhari, no. 6016].

Sedangkan dosa yang ada perkataan “bukan dari kami” adalah seperti sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ حَمَلَ عَلَيْنَا السِّلاَحَ فَلَيْسَ مِنَّا وَمَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا

Barangsiapa mengangkat senjata terhadap kami, maka dia bukan dari kami; dan barangsiapa berbuat curang terhadap kami, maka dia bukan dari kami. [HR Muslim, no. 101].

Juga sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ

Bukan dari kami orang yang menampar pipi, merobek belahan/kantong (baju), dan berteriak dengan teriakan jahiliyah. [HR Bukhari, no. 1294].

Dengan sedikit penjelasan ini, kita mengetahui pentingnya memahami jenis-jenis dosa besar agar kita bisa menjahuinya. Berapa banyak orang terjerumus di dalam dosa besar karena ketidaktahuannya, atau karena mengikuti hawa nafsu yang mencelakannya.

Hanya Allâh Tempat memohon pertolongan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.