BERBURU DURIAN NGAMPIN SAMPAI KEKEBUNNYA, MANTAP BANGET “

by March 12, 2022
KABUPATEN SEMARANG 0   240 views 0

Pak Tri salah seorang petani durian desa Ngampin Ambarawa yang selalu ramah kepada konsumen, tidak tanggung, kadang pembeli yang datang diajak langsung ke kubun dan menurunkan durian khas Ngampin dan bisa langsung dikonsumsi dikebun ..Waoww Mantaps

Reportactual.com – Ngampin Ambarawa – Selain Desa Brongkol, kecamatan Banyubiru dan kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang ternyata memiliki pusat kuliner buah durian.   Daerah ini bernama Ngampin, terletak di kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang.

Selama ini, Kabupaten Semarang terkenal sebagai salah satu daerah penghasil pertanian, perkebunan, peternakan, dan wilayah industri. Hasil sayuran, hewan ternak, bunga hias, buah lokal, maupun pekerja pabrik menjadi ciri khasnya.

Bidang pariwisata juga semakin bertumbuh. Buktinya, begitu banyak lokasi wisata yang mulai bermunculan di berbagai tempat.  Pemandangan indah dari barisan Gunung dan  Danau Rawapening menjadi daya tarik tersendiri kabupaten Semarang.

Nyatanya, selain semua daya tarik itu, ada salah satu yang tidak bisa dilewatkan. Yakni kuliner buah durian. Saatnya aku berburu durian. Musim durian seperti sekarang akan sangat disayangkan jika kita tidak menikmati kelezatannya. Kali ini aku meminta izin untuk bisa turut serta memanen durian dari kebun langsung.

“Ini durian apa, Pak?”

“Ini durian lokal, Mbak.”

“Rasanya bagaimana?”

“Enak, manis. Jaminan tidak manis kami ganti,” ucap Pak Tri. Salah satu pemilik kebun durian. Aku sengaja main ke rumahnya.

Rumah pak Tri terletak di Ngampin, Lonjong. Dari jalan raya, masuk gapura tulisan ‘Lingkungan Lonjong’. RT 1 RW 3.

Perjalanan kami awalnya  naik sepeda motor hingga sampai di dekat area kebun. Setelah memarkirkan motor, kami melanjutkan perjalanan menuju ke kebun milik Pak Tri. Perjalanan dilalui dengan berjalan kaki. Medan menuju lokasi agak licin karena basah oleh air hujan. Tekstur tanah menanjak membuatku harus mengeluarkan energi ekstra.

Area kebunan ini ternyata luas dan dimiliki oleh beberapa warga yang rata-rata tinggal di Desa Ngampin. Di sepanjang jalan, aku melihat pohon durian yang berbuah di beberapa tempat. Ternyata memang kebun setiap warga di sini memiliki pohon durian.

“Memang tempat perkebunan warga di sini hampir semua memiliki pohon durian. Musim panen pun biasanya pada waktu yang bersamaan. Meskipun beberapa daerah lain sudah panen, tempat kami kompak panen di waktu yang hampir bersamaan,” ucap Pak Tri menambahkan.

Pohon durian di Ngampin sangat tinggi. Tampaknya pohon ini telah ada semenjak para pendahulu. Sesampai di lokasi durian tujuan kami, saya mencoba mengukur besar pohon yang sedang dipanjat. Ternyata saat aku memeluk batang pohonnya, jari tengah akan bertemu di ujung jarinya tengah yang lain. Batang pohon ini sungguh besar. Ukuran tingginya hampir mirip seperti pohon kelapa.

Proses penurunan durian juga butuh kehati-hatian. Pak Tri akan menurunkan durian dengan mengaitkan durian di tali yang ia bawa serta di atas pohon. Durian yang telah lepas dari batang diturunkan tanpa dijatuhkan. Menjatuhkan durian akan mengakibatkan isi durian hancur kocar-kacir.

Setelah cukup membawa sekitar 20 biji durian ukuran besar dan kecil, kami membawanya pulang. Pak Tri mengikat durian itu di sebuah batang yang sengaja ia potong untuk dijadikan pikulan. Kemudian ia memikulnya hingga ke tempat kami memarkirkan motor. Aku hanya mampu membawa empat durian dengan kedua tangan. Itu pun harus merelakan tertusuk duri beberapa kali hingga berdarah. Efek pemula memanen durian.

Jalan pulang kami basah terkena air hujan dan menurun. Pak Tri menjaga keseimbangan saat berjalan hingga durian di pikulannya selamat sampai tujuan. Perjuangan yang berat namun mampu ia lakukan. Sedangkan aku, sempat menggerutu beberapa kali akibat kelelahan dan luka- luka kecil tertusuk duri di ujung jari.

Sampai di rumah, tak tunggu waktu lama aku membersihkan tangan lalu menyantap durian yang telah dibuka. Membelah durian bagiku juga pekerjaan yang tak mudah. Namun begitu, membayangkan memanen duriannya tadi cukuplah membuatku tak lagi mengeluhkan proses ini.

Bismillah. Hap .. Kulahap satu demi satu. Nikmat yang mampu membuatku melayang melupakan segala kekalahan tadi. Senyum kami menghias kenikmatan menyantap durian Ngampin.

Setiap aku menanyakan nama dan jenis durian, Pak Tri selalu menjawab singkat.

“Durian lokal. Durian Ngampin.”

Ada beberapa macam rasa dan tekstur yang sempat aku cicip di buah durian milik Pak Tri ini. Ada durian dengan tekstur lembek, kekuningan, daging sedang tidak terlalu tebal. Rata-rata ukuran buahnya kecil sedang. Bentuk ujung kulit buahnya meruncing warna kulit buahnya kuning. Rasa buah durian yang dimiliki cenderung manis, gurih mentega, campur sensasi susu.

Ada juga buah durian dengan ukuran yang kecil, sedang, besar. Bentuk ujung kulit menggembung. Kulitnya tidak bulat sempurna dan berwarna hijau segar. Hampir mirip seperti durian Montong. Daging duriannya pun tebal, cenderung lembek. Rasa dominan manis dengan sensasi pahit.

Selanjutnya durian dengan kulit buah warna coklat. Ukuran buah durian ini rata-rata besar. Tebal dagingnya sedang. Warna daging kuning. Rasanya manis sensasi vanila. Ujung kulit durian ini unik. Menggembung dan sedikit merekah atau mletek istilah jawanya. Namun mletek ini memang ciri khas durian tersebut. Saat masih menempel dan belum lepas dari batang pohon, buah durian ini juga ada yang sudah mletek sebelum matang. Meskipun begitu, rasa durian ini legit kesat dan enak.

Lalu terakhir durian yang juga berwarna coklat. Rasa cenderung manis. Daging buahnya tipis. Dlongop istilah yang diberikan  pada buah ini karena biji buahnya bahkan bisa dilihat saking tipis dagingnya. Kelebihan durian ini, jumlah biji dalam satu sisi buah biasanya ada banyak.

Pernah juga aku menikmati durian milik saudara Pak Tri. Warna kulitnya kuning segar. Ujung kulit buahnya berwarna hitam dan sedikit terbuka. Ciri khas buah durian jenis ini, durinya terkesan lebih panjang dan runcing. Tapi jangan ditanya, isinya begitu nikmat. Tekstur lembek tapi tidak terlalu lembek. Warna daging kekuningan. Rasanya manis, gurih. Dagingnya sedang lumayan tebal.

Masih ada lagi beberapa jenis durian dari segi perbedaan bentuk, tekstur, dan rasa yang dimiliki oleh para petani musiman buah durian di Ngampin. Enaknya lagi, setiap beli di rumah pemilik durian ini, kita biasa ditawarkan untuk mencicipi durian sebelum kita membeli. Lumayan, bonus makan di tempat. Hehe.

Nah, itulah pengalamanku menikmati perjalanan memanen dan memakan durian di Ngampin, Ambarawa, kab. Semarang. Seru meski bersusah payah. Perjuangan memanen durian yang begitu berat membuatku tak lagi mencibir betapa buah ini memiliki harga yang lumayan mahal. Selain rasanya yang lezat, proses memanennya juga butuh usaha yang tidak mudah.

Dari serabi khas Ngampin, jangan lupa mencoba kuliner durian Ngampin. Harga yang dibandrol dari pemilik durian ini tentunya tak semahal harga durian di jalan raya. Tapi pastinya, membeli durian di pemilik langsung lebih enak borongan. Biasanya para pedagang buah durian juga mengambil durian Ngampin untuk  dijual  lagi di tempat lain.

Anda tertarik untuk mencoba durian Ngampin? Segeralah main ke lokasi. Jangan sampai musim durian habis, kita sudah tak kebagian. Salam kuliner kabupaten Semarang.

 

Penulis, InFatCi Literasi ceria ”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.