TUNTANG – Pagi itu, suasana di Gedung DPD PKS Kabupaten Semarang, Gading, terasa berbeda. Tidak ada hiruk-pukuk diskusi politik yang berat. Sebaliknya, keheningan yang khidmat menyelimuti ruangan saat puluhan pasang mata tertuju pada selembar kain kafan yang terbentang.
Ahad, 1 Februari 2026, menjadi momen penting bagi anggota DPC PKS dari Banyubiru, Tuntang, Bawen, dan Pringapus. Mereka berkumpul bukan untuk rapat rutin, melainkan untuk belajar tentang sebuah kewajiban yang sering kali dianggap tabu atau menakutkan oleh sebagian orang: Pemulasaraan Jenazah.
Bukan Sekadar Tradisi, Tapi Ibadah
Selama ini, pemulasaraan jenazah di tengah masyarakat sering kali menjadi “tugas eksklusif” bagi satu atau dua orang sesepuh saja. Tak jarang, prosesinya masih terpaku pada kebiasaan turun-temurun yang secara syariat belum tentu sempurna. Fenomena inilah yang menjadi keresahan bagi Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (Bipeka) Dapil 2 Kabupaten Semarang.
“Kita ingin memastikan bahwa bakti terakhir kita kepada sesama Muslim dilakukan dengan cara yang terbaik, sesuai tuntunan Nabi,” ungkap Bapak Loemiyono, Bidang Pembinaan Cabang (BPC) PKS Dapil 2, dalam sambutannya.
Senada dengan hal tersebut, Nafis Munandar, anggota FPKS DPRD Kabupaten Semarang yang turut hadir, menekankan pentingnya kemandirian. Melalui Yayasan Gerakan Desa Santri yang ia gawanginya, Nafis membawa misi besar: membumikan syariat hingga ke prosesi pengantaran jenazah ke liang lahat.
Ketelitian di Balik Kain Putih
Pelatihan yang berlangsung hingga tengah hari ini tidak hanya berisi teori. Di bawah bimbingan instruktur dari Yayasan Gerakan Desa Santri, para peserta—baik bapak-bapak maupun ibu-ibu—langsung mempraktikkan cara memandikan hingga teknik melipat kain kafan agar rapi dan menutup aurat dengan sempurna.
Ada ketelitian yang diajarkan. Ada doa yang disisipkan. Peserta diajak untuk memahami bahwa mengurus jenazah bukan sekadar membersihkan raga, tapi sebuah bentuk penghormatan terakhir yang penuh kasih sayang.
“Tujuannya agar kita tidak lagi hanya mengandalkan satu-dua orang di desa. Jika ada tetangga atau keluarga yang meninggal, kader sudah siap dan tahu apa yang harus dilakukan sesuai syariat Islam,” tutur Nafis Munandar dengan nada mantap.
Membawa Ilmu ke Desa-Desa
Pukul 12.30 WIB, acara berakhir, namun tugas sebenarnya baru dimulai. Para peserta pulang membawa ilmu yang mungkin “sunyi” dari tepuk tangan, namun sangat dinantikan manfaatnya di tengah masyarakat.
Lewat tangan-tangan terampil yang baru saja dilatih ini, Bipeka PKS Dapil 2 berharap tidak ada lagi keraguan dalam mengurus jenazah. Di balik setiap lipatan kafan dan setiap guyuran air mandian, ada doa dan kepastian bahwa syariat telah ditegakkan. Sebuah pengabdian yang sunyi, namun bermakna abadi.

Leave a Reply